Post message click here

Name:

E-mail or Website:

Message:

 

PSIKIATER


Gangguan Jiwa Tak Lagi Masalah
Gangguan jiwa hingga kini masih dicap negatif. Tidak hanya penderita keluarga pun menjadi malu, terhina, bersalah dan cenderung menyembunyikan masalah. Ujungnya, pengobatan yang dilakukan tak optimal. Kasus gangguan jiwa di seluruh dunia menunjukkan perkembangan signifikan. Badan Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 450 juta penduduk dunia mengalami gangguan jiwa. Sementara di Indonesia ada 6-19 orang per 1.000 penduduk mengalami gangguan jiwa berat (skizofrenia). Masalahnya, penanganan terhadap penderita gangguan jiwa kadang tidak optimal akibat stigma/cap negatif yang ada di masyarakat. Jangankan mendapat penanganan yang baik, untuk mengatakan dirinya/anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa, masyarakat enggan. Malah sebaliknya, sikap menutup diri langsung dilakukan. Stigma adalah stempel yang menimbulkan kesan jijik, kotor, antipati, berbagai macam perasaan negatif lainnya. Akibatnya, perlakuan diskriminasi dan alienasi/pengasingan yang kemudian muncul.

Tujuan dari pemberian stempel itu sendiri merupakan reaksi masyarakat atas perilaku buruk atau negatif sekelompok orang, seperti membunuh, pemerkosa, dan penjahat lain. Diharapkan, timbulnya dampak positif dari stigmatisasi karena orang yang mendapat stempel itu menjadi malu, terhina, dan bersalah sehingga terjadi perubahan perilaku. Sayang, stigmatisasi juga bisa timbul akibat persepsi masyarakat yang keliru, salah satunya mengenai gangguan jiwa. Dalam masyarakat telanjur terbentuk opini yang keliru yang menganggap orang dengan gangguan jiwa sebagai individu berbahaya, bodoh, aneh, tidak bisa disembuhkan. Salah satu bentuk dari stigma di masyarakat adalah pemasungan terhadap orang yang mengidap gangguan jiwa yang hingga kini masih banyak terjadi di daerah-daerah. Hal itu merupakan reaksi di masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa dari waktu ke waktu yang belum berubah.

Stigma dan ketidaktahuan yang menjadi penyebab penderita gangguan jiwa banyak yang berada di tengah masyarakat. Bukan malah bagus, tapi yang penanganannya menjadi tidak efektif. Meski banyak bukti menunjukkan hal sebaliknya, stempel stigma negatif kadung melekat dan sulit dihilangkan. Orang dengan gangguan jiwa beserta keluarganya merasa malu, terhina dan bersalah. Sehingga mereka cenderung menyembunyikan keadaan tersebut serta menjauhkan diri dari pengobatan. Dampak stigma, perlakuan salah, diskriminasi, dan pelayanan yang minimal adalah pada perjalanan penyakit itu sendiri. Penderita mengalami sakit berkelanjutan, menjadi kronis yang tentu menyulitkan proses pemulihan. Produktivitas penderita juga turun. Bahkan, tidak produktif sama sekali dan ini tentu berdampak pada harga sosial yang harus dibayar. Dampak buruk dari stigma, perlakuan salah, diskriminasi dan pelayanan yang minimal membuat penyakit menjadi berkelanjutan, kronis, dan sulit sembuh. Penderita jadi tidak produktif sama sekali, demikian juga dengan beban yang harus ditanggung keluarga. Tidak hanya beban ekonomi dan emosi, namun juga beban sosial yang tidak ringan.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, menyebutkan seseorang dikatakan sehat apabila berada dalam suatu keadaan yang sempurna secara fisik, mental dan sosial. Bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, kelemahan. Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan badan, jiwa, dan sosial yang mendorong perkembangan intelektual & emosional seseorang secara optimal. Serta selaras dengan perkembangan orang lain yang memungkin orang tersebut hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam laporan WHO, menunjukkan tentang disability-adjusted live year (DALY), instrumen untuk mengukur beban kesehatan menunjukkan bahwa gangguan depresi berat menempati urutan ketiga dan diproyeksikan menjadi nomor satu pada 2020. Untuk menekan tingginya prevelansi gangguan jiwa salah satunya dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan terhadap masalah gangguan jiwa. Sehingga, stigma yang berkembang secara bertahap bisa dihilangkan, termasuk diskriminasi & penanganan terhadap orang dengan gangguan jiwa bisa dilakukan sedini mungkin dan optimal. Masyarakat maupun komunitas sangat berperan dalam mengatasi problem-problem yang dihadapi penderita gangguan jiwa. Satu sisi komunitas bisa menjadi penyebab/memperparah problem tersebut, tapi di sisi lain penderita gangguan jiwa pun membutuhkan komunitas untuk mengatasinya.

Salah Kaprah tentang Gangguan Jiwa
Beban berat juga dipikul keluarga penderita. Anggota keluarga menjadi malu dan merasa ikut dijauhi masyarakat. Kadang mereka dipojokkan sebagai penyebab gangguan yang dialami penderita. Mereka juga kerap menjadi korban pertama jika penderita mengalami kekambuhan. Kondisi itu praktis jarang mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Akibatnya, banyak anggota keluarga putus asa dan akhirnya mengambil jalan praktis dengan memasung penderita dengan berbagai cara. Bagi keluarga yang mampu, mungkin disediakan sel di dalam rumah. Namun, untuk yang kurang mampu, hanya membuat semacam kandang kecil di seputar rumah induk sebagai tempat penderita menghabiskan waktunya.

Dalam keadaan ekstrem, keluarga dibantu dengan masyarakat memasung penderita, mengikat kaki penderita dengan balok besar, dibiarkan di luar rumah dan menjadi tontonan warga. Perlakukan terhadap penderita gangguan jiwa dilatarbelakangi oleh pemahaman yang sangat minim terhadap masalah kejiwaan itu. Tidak hanya stigma yang sudah terbentuk turun-temurun ikut melandasi perlakuan diskriminasi itu. Padahal setiap orang memiliki gangguannya masing-masing. Hanya, ada yang ringan tapi ada juga yang ekstrem. Masyarakat tidak menyadari bahwa seseorang tidak dengan tiba-tiba menjadi terganggu jiwanya. Karena sebelum tiba pada tingkat gangguan yang dianggap berat, ada masa yang sebelumnya dilewati. Masa yang seandainya diketahui dan dideteksi sejak dini dan diberi perhatian cukup dengan pengobatan yang memadai dapat menghindarkan seseorang dari kondisi yang dianggap buruk.

Pada umumnya, orang hanya mengetahui gangguan jiwa yang berat seperti skizofrenia, akan tetapi tidak mengetahui gangguan jiwa yang tergolong ringan. Masyarakat tidak menganggap serius berbagai tekanan hidup dan trauma yang membuat stres sehingga depresi. Karena itu, sikap masyarakat yang salah tertuju pada semua jenis gangguan jiwa. Pengetahuan terhadap gangguan jiwa yang kurang memadai menyebabkan penderita gangguan jiwa sering kali terlambat mendapat penanganan. Gangguan jiwa merupakan suatu perubahan dalam pikiran, perilaku dan suasana perasaan yang menimbulkan penderitaan pada individu dan hambatan dalam melaksanakan fungsi psikososial yang meliputi pendidikan, pergaulan, pekerjaan dan pemanfaatan waktu senggang.

Pada dasarnya tidak semua penderita gangguan jiwa membutuhkan perawatan di rumah sakit. Hanya, mereka dengan gangguan jiwa berat yang memiliki kecenderungan membahayakan diri maupun orang lain saja yang perlu perawatan rumah sakit. Setelah masa akutnya teratasi, umumnya penderita bisa kembali ke tengah keluarga. Bisa dikatakan, penderita gangguan jiwa lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Hanya sayang, di dalam lingkungan keluarga penderita justru banyak mengalami perlakuan salah. Umumnya yang terjadi adalah kekerasan emosional, dimarahi, dihina, hingga tidak dianggap keberadaannya. Namun, tidak jarang mereka mengalami kekerasan fisik.

Tidak aneh, karena penderita gangguan jiwa dianggap aib keluarga. Banyak yang dikucilkan atau malah ditelantarkan. Akhirnya harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sakit atau tempat perawatan lain karena keberadaannya dianggap mengganggu dan membebani. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang kondusif dan berada di tengah keluarga yang menerima, maka frekuensi kekambuhan menjadi lebih kecil dan prognosis atau harapan kesembuhan menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika berada di lingkungan yang tidak mendukung, maka frekuensi kekambuhan menjadi lebih besar dan pada akhirnya memperburuk kondisi penyakitnya. Perlakuan keluarga dan masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa tidak terlepas stigma atau opini yang terbentuk selama ini mengenai masalah kejiwaan. Salah satunya berasal dari media.

Dari Fobia hingga Halusinasi
Gangguan Jiwa Berat atau Psikotik
Gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan berat dalam menilai kenyataan dalam membedakan antara fantasi dan realitas. Gejala yang muncul adalah waham, halusinasi, hendaya atau ketidakmampuan berat dalam perawatan diri, dalam fungsi sosial serta pekerjaan sehari-hari yang biasa dilakukan.

Gangguan Jiwa Non-Psikotik
Suatu kondisi gangguan yang tidak terdapat ketidakmampuan berat dalam menilai kenyataan atau membedakan antara fantasi dan realitas. Gangguan ini sangat beragam jenisnya, yang sering dijumpai di antaranya adalah:
  • Depresi

  • Gangguan jiwa yang ditandai perasaan sedih yang mendalam dan hilangnya minat terhadap hal-hal yang biasanya dinikmati.
  • Anxietas

  • Gangguan jiwa yang ditandai adanya kecemasan yang berlebihan dan muncul dalam berbagai gejala, seperti pikiran yang terus berulang tanpa bisa dikendalikan (obsesif). Tindakan berulang yang tidak bisa dikendalikan untuk menjalankan pikiran yang obsesif, rasa takut yang berlebihan terhadap suatu objek atau suatu hal (fobia).

    Stres dan Depresi
    Para ilmuwan masih belum memahami respons stres sepenuhnya. Tapi diyakini pemicu stres harus mencapai otak lalu diproses dan mempersiapkan sumbu stres dalam gerakan. Wilayah di otak yang dapat menjelaskan masalah stres adalah limbic.
  • Informasi dari wilayah limbic diteruskan ke bagian perbatasan dari otak, hypothalamus, mungkin dengan kaitan saraf langsung.
  • Hypothalamus menerima input dari indra-indra dan organ-organ besar. Ketika diperingatkan, hypothalamus mengirimkan pesan saraf ke sekelompok sel yang ada di dalam dirinya dan mengeluarkan hormon CRH (corticotrophin releasing hormone).
  • Corticotrophin releasing hormone masuk dalam aliran darah menuju kelenjar pituitary, merangsang kelenjar mengeluarkan hormon lainnya ACTH (adrenocorticotrophin hormone) ke dalam darah.
  • Adrenocorticotrophin hormone menjalar dalam darah menuju kelenjar adrenalin dan merangsang produksi dan terlepasnya hormon stres (cortisol).
  • Cortisol menjalar melalui darah ke beberapa situs di seluruh tubuh termasuk kembali ke otak, menaikkan beberapa fungsi dan menghambat yang lainnya. Fungsi penghambatan cortisol yang paling penting adalah mematikan respons stres. Otak dan kelenjar pituitary dengan cepat merespons kehadiran cortisol dengan mematikan sekresi CRH dan ACTH. Respons cepat untuk stres memanggil cortisol dan dua hormon adrenalin lainnya (epinephrine dan norepinephrine). Ketiganya disebut respons fight or flight dari bertambah cepatnya detak jantung, meningkatnya tekanan darah, perlepasan cepat energi yang tersimpan dalam tubuh, dan beberapa fungsi lainnya.
  • Jika sumber stres memajan beberapa jam, salah satu fungsi utama cortisol meningkatkan pasokan glukosa ke otak dan jantung. Caranya dengan meningkatkan metabolisme pemecahan protein dari otot, tulang, dan beberapa jaringan lain. Asam amino yang dihasilkan dari pemecahan itu menuju hati untuk diubah oleh enzim menjadi glukosa, proses ini disebut gluconeogenesis.


  • Insomnia
    Insomnia ternyata berkaitan erat dengan depresi. Insomnia kronis yang diderita selama bertahun-tahun akan membuat penderitanya mengalami depresi di masa tua. Artinya orang, terutama wanita, yang susah tidur memiliki risiko tinggi menderita depresi dibandingkan orang yang tiada masalah dengan tidurnya. Karena itu, para pasien insomnia, menurut sebuah studi di Pittsburgh, Amerika, lebih baik menggabungkan obat-obat tidur dengan resep dokter dengan obat anti-depresan. Pengobatan lebih dari 8 minggu membuat mereka lebih cepat tertidur, tidur lebih lama, dan pulas.

    Waspadalah bila Mood Cepat Berubah!
    Jika suasana hati berubah-ubah, dari gembira tiba-tiba sedih, dan terjadi berkepanjangan. Waspadalah, kemungkinan itu adalah bipolar. Apa itu bipolar dan bagaimana penanganannya? Gangguan jiwa memiliki banyak variasi dan gejalanya, seperti skizofrenia, ansietas, depresif, dan manik depresi atau disebut bipolar. Hanya, kebanyakan masyarakat salah menafsirkan gangguan jiwa dengan stigma orang gila. Padahal gangguan jiwa memiliki cakupan yang amat luas. Orang enggan berkonsultasi dengan psikiater karena takut dikira sakit jiwa. Bipolar merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang menggambarkan dua suasana hati atau perasaan yang berbeda. Satu sisi adalah kutub mania atau gembira, di sisi lain kutub depresi atau kesedihan. Menurut data World Health Organization, masalah gangguan jiwa di seluruh dunia menjadi masalah serius. Pada tahun 2001, di seluruh dunia terdapat 450 juta penderita gangguan jiwa. Sementara di negara berkembang seperti Indonesia, diprediksi 20% dari total penduduk dewasa. Dengan kata lain 1 dari 5 penduduk dewasa mengalami gangguan jiwa.

    Gangguan jiwa yang dikenal saat ini adalah skizofrenia, ansietas, depresi, dan manik depresi atau bipolar. Jika depresi telah banyak diketahui oleh masyarakat umum, manik depresi justru kurang familiar. Gangguan bipolar, suatu penyakit yang ditandai oleh periode terganggunya alam perasaan (suasana hati) atau terganggunya fungsi sosial. Penderita akan mengalami periode manik atau disebut juga dengan maniak dan hipomanik. Serta mengalami periode depresi. Dalam depresi ini ada 3 hal utama yang menonjol, yaitu tampak dari ekspresi wajah yang sedih, sering menangis dan disertai perasaan lesu, tidak ada semangat, serta mudah lelah. Mau melakukan sesuatu tidak ada semangat sama sekali. Sementara bipolar bisa sebaliknya, kadang muncul depresi tapi dengan cepat berubah menjadi manik dengan perasaan yang sangat gembira.

    Bila kebanyakan depresi pada orang normal tidak begitu terlihat, pada penderita bipolar terlihat jelas. Mood mudah terpicu, marah-marah tanpa alasan yang jelas. Perubahan suasana hati bersifat tidak proporsional. Melebihi yang sepatutnya atau tidak berhubungan dengan peristiwa yang dialaminya. Selain itu bipolar juga merasa tidak perlu tidur, kerja terus sampai malam, tidur hanya satu jam. Pada orang normal, pergantian mood ada di bawah itu, bipolar kelihatan. Gejalanya jelas. Perubahan mood secara terus menerus merasa dirinya paling hebat dan berkuasa atau grandiosity. Orang bipolar bisa menyebut dirinya sebagai jenderal, wali bahkan nabi yang bersifat menetap. Kalau orang bipolar merasa dirinya baik, maka menganggap sebagai wali atau nabi. Tapi jika merasa jahat, bisa jadi dirinya sebagai raja iblis. Berbahanya penyakit gangguan jiwa itu membawa dan mengajak orang lain. Sehingga orang lain ikut juga menjadi wakil. Penyebab belum diketahui dengan pasti. Pada umumnya kita tidak tahu secara pasti. Tapi mungkin sekali adalah virus. Virus terjadi pada waktu dalam kandungan atau satu tahun pertama lahir. Setelah 15-20 tahun baru muncul. Tidak ada yang umur 2-3 tahun atau 12 tahun. Biasanya 15 tahun. Biasanya kelenjar di dalam otak pada umur 15 tahun sudah berkurang 50%. Padahal kelenjar itu dianggap mencegah gangguan-gangguan. Dia mengeluarkan hormon yang bisa mencegah gangguan.

    Berkembang dalam Jangka Panjang
    Pada awalnya seperti halnya gangguan jiwa pada umumnya dimulai dengan depresi. Jika depresi berkelanjutan dan sering muncul, bisa disebut sebagai awal sebelum berkembang menjadi gangguan jiwa, salah satunya bipolar. Biasa orang dengan gangguan jiwa, baru akan melakukan konsultasi ke psikiater setelah 1,5-3 tahun setelah kemunculan depresi. Jika tidak ditangani depresi akan terus berlanjut dan makin hebat dalam kurun waktu 6-8 tahun. Itu sebabnya prevelansi tertinggi penderita bipolar adalah umur 18-24 tahun, meski banyak pula yang muncul di atas usia itu. Jumlah penderita pria dan wanita relatif berimbang. Setelah masa depresi terus-menerus, baru kemudian muncul gejala bipolar yang disertai manik. Manik bisa berwujud macam-macam. Selain masalah keuangan yakni keinginan untuk berbelanja berlebihan, saat berkendaraan, bisa juga ketika melakukan hubungan seksual. Jika sedang mengalami manik, bisa saja hubungan seksual dilakukan dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang baru dikenal sekalipun.

    Bipolar bisa dibedakan dalam tiga kategori, yakni bipolar satu, dua dan cyclothymic disorder. Bipolar satu merupakan yang paling hebat, bipolar dua yang kurang hebat dan cyclothymic merupakan kondisi dimana mood berganti-ganti dengan cepat. Bipolar satu ada yang berbentuk hipomanic, mixed, depresi hingga yang tidak jelas spesifikasinya. Bipolar dua ini merupakan yang paling banyak diderita oleh masyarakat umum. Kelihatannya normal dan masih bisa diajak ngomong. Namun, kalau bicara sulit untuk dihentikan. Sedangkan bipolar satu merupakan kondisi penderita yang sudah harus masuk rumah sakit, karena sudah berkembang menjadi manik. Berbeda dengan bipolar dua yang hanya berada pada tingkat depresi dan hipomanik. Sementara itu, cyclothymic disorder harus ada periode manik dan periode depresi. Periode itu berganti minimal selama dua tahun.

    Punya Kecenderungan Bunuh Diri
    Penderita bipolar tidak merasakan kebahagiaan, meski dia merasa dirinya hebat. Sebaliknya justru perasaan itu mengakibatkan orang bipolar mempunyai ketegangan tinggi. Ini yang harus dibedakan antara manik dengan major depresi epesode. Jika manik, perasaan hebat akan muncul dengan nyata, maka major depresi perasaan hebat tidak ada. Jadi bedanya tipis. Misalnya ada seseorang yang merasa dirinya punya uang miliaran, lalu dianggap grandiosity, padahal kenyataannya memang dia punya uang itu. Jadi harus hati-hati.

    Perasaan tertekan dialami baik yang manik atau depresi. Beda dengan depresi, bipolar biasa diikuti dengan hiperaktivitas, kerja luar biasa dan juga mudah marah. Yang bahaya adalah jika melakukan usaha bunuh diri. Karena sekitar 15% dari orang depresi dan 16% orang bipolar itu akan mencoba melakukan bunuh diri. Yang bahaya adalah merusak finansial, karena bipolar, kalau manic akan belanja mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya.

    Tidak hanya berpengaruh terhadap diri sendiri, bipolar juga akan mempengaruhi hubungannya terhadap orang lain. Pertama kehidupan akan rusak, diri sendiri atau merusak orang lain karena biasanya bipolar banyak pengikutnya. Salah satu bipolar yang terkenal adalah Adolf Hitler, pemimpin NAZI Jerman. Selain itu, keharmonisan rumah tangga bisa rusak akibat bipolar. Tidak hanya terhadap istri atau suami, namun juga anak-anaknya. Karena dengan adanya bipolar anak tidak mengerti dan bapaknya tidak mengerti maka akan merusak hubungan.

    Mengontrol dengan Obat
    Susahnya menangani masalah gangguan kejiwaan seperti bipolar adalah pasien yang harus datang ke psikiater. Psikiater juga hanya boleh mengobati seseorang yang datang kepada dia. Tidak boleh mengobati orang lain yang menyebutkan ada seseorang yang bipolar. Untuk mengatasi bipolar biasanya diobati dengan obat untuk menghentikan perubahan mood. Obat akan membantu menyeimbangkan kondisi manik dan depresi. Obat akan mulai terasa dalam beberapa minggu. Pengobatan bipolar merupakan suatu pengobatan jangka panjang hal itu dilakukan kalau sudah dua kali manik, perlu waktu hingga lima tahun. Kalau hanya satu kali manik tapi sangat hebat dan ada gangguan pada keluarga perlu juga pengobatan.

    Pengobatan bipolar tidak hanya terbatas dengan obat, tetapi juga meditasi, relaksasi, latihan napas, dan terapi tertawa. Kognitif behavior atau terapi juga membantu dalam upaya pengobatan, selain tentu saja dengan obat. Obat-obatan yang disebut mood stabilizer antara lain adalah valproate, lithium, oxcabamazepin, dan lamotrigine. Namun diakui, pengobatan dengan lithium itu sangat toksik, bisa menyebabkan kematian. Pengaruh yang paling utama adalah terhadap fungsi ginjal. Itu sebabnya penggunaan obat jenis itu dibatasi tidak lebih dari tiga tablet, untuk aman di Indonesia hanya diberikan satu tablet per hari. Obat-obatan untuk bipolar memang belum digolongkan di Indonesia, namun yang telah mendapatkan persetujuan dari FDA, badan pengawas obat AS ada dua yakni lithium dan valproate. Dengan mood stabilizer, maka efek dari rasa kehebatan bipolar akan hilang. Merasa dirinya sebagai jenderal atau nabi akan sirna. Menjadi kurang kreatif dan tidak produktif. Itu sebabnya ada penolakan dari pasien untuk minum obat tersebut. Pasien merasa tidak suka dikontrol dengan obat. Jarang sekali orang mania itu merasa dirinya sakit. Dengan pengobatan umumnya gangguan bipolar dapat terkontrol dengan baik, meski tidak menutup kemungkinan akan kambuh kembali. Namun kekambuhan yang terjadi sering kali diakibatkan oleh pengobatan yang tidak tepat. Karena itu hal penting yang perlu diingat adalah rutin melakukan konsultasi dengan dokter.

    Kenali Gejalanya
    Tanda-tanda gangguan jiwa bisa dikenal secara dini. Pengobatan pun bisa dilakukan lebih cepat jika hal tersebut diketahui lebih awal.
  • Kalau ada gejala depresi perlu waspada terhadap kemungkinan berkembang menjadi manik depresi atau bipolar.
  • Setiap masalah gangguan jiwa termasuk bipolar harus segera diatasi dengan berobat.
  • Pencegahan bisa dilakukan hidup positif.
  • Keluarga harus memandang anggota keluarga yang menderita bipolar sebagai korban.


  • Dua Fase Gangguan Jiwa
    Fase Manik
  • Suasana hati gembira berlebihan.
  • Ekspansif, aktivitas meningkat.
  • Mudah tersinggung.
  • Hiperaktivitas.
  • Berbicara sangat cepat.
  • Ide yang muncul meloncat-loncat.
  • Kebutuhan tidur berkurang.
  • Harga diri berlebihan.
  • Perhatian mudah teralih.
  • Pertimbangan buruk.
  • Sikap berlebihan, belanja berlebihan, dan seks tidak aman.
  • Fase Depresi
  • Perasaan murung atau sedih.
  • Mudah menangis.
  • Hilang minat dan kegembiraan.
  • Kelelahan.
  • Gangguan tidur dan kurang nafsu makan.
  • Rasa putus asa.
  • Pesimistis, merasa tidak berguna.
  • Sulit konsentrasi.
  • Berat badan naik turun secara signifikan.
  • Perasaan bersalah.
  • Pikiran bunuh diri.
  •  

    Designed and developed by Aa Endang © 2007-2020. All rights reserved. Aa Endang is sponsored by IklanPraktis - TOP

    IndoBanner Exchanges